Jenis Domba dan Kambing

Mengenal Berbagai Jenis Domba/Kambing
Budidaya domba/kambing diperkirakan telah dilakukan oleh manusia sejak 8000 hingga 9000 tahun yang lalu. Awalnya yang dilakukan hanyalah merupakan pengandangan pada hasil tangkapan hewan liar yang dimaksudkan sebagai cadangan makanan, kemudian berkembang; sejalan dengan perkembangan budaya, hingga akhirnya menjadi semacam usaha peternakan. Pada masa sekarang tujuan dari usaha peternakan domba/kambing bukan lagi semata-mata untuk ketersediaan cadangan makanan, melainkan bertujuan ekonomi; yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan suatu bangsa.
Hingga saat ini telah tercatat sekitar 300 variasi genetik domba/kambing yang tersebar secara luas di berbagai wilayah bumi; yaitu pada daerah-daerah tropis maupun sub tropis, dan 80 diantaranya telah teridentifikasi dengan baik. Penelitian terhadap berbagai macam variasi genetik tersebut terus dilakukan untuk keperluan produksi ternak, sehingga hasil yang didapatkan sesuai dengan apa yang menjadi harapan. Berikut ini akan diperkenalkan beberapa jenis domba/kambing untuk memberikan gambaran performansi fisik yang dimilikinya berkaitan dengan usaha ternak.

1. Kambing Liar
Kambing liar (Capra aegagrus hircus) merupakan binatang memamah biak berukuran sedang yang tersebar dari Spanyol ke arah timur sampai India, dan dari India ke arah utara sampai Mongolia dan Siberia. Ciri-ciri umum: berjenggot, dahi cembung, ekor agak ke atas, berbulu lurus dan kasar, panjang tubuh sekitar 1,5 m (tidak termasuk ekor), panjang ekor sekitar 15 cm. Kambing jantan maupun betina memiliki sepasang tanduk, namun tanduk pada kambing jantan lebih besar. Habitat: daerah pegunungan yang berbatu-batu. Cara hidup: berkelompok 5 – 20 ekor dan mengembara mencari makan. Setiap kelompok dipimpin oleh kambing betina paling tua, sedangkan yang jantan sebagai penjaga keamanan rombongan. Waktu aktif mencari dedaunan dan rumput-rumputan sebagai makanan utama: siang maupun malam hari. Cara berkembang biak: melahirkan dengan masa kehamilan sekitar 154 hari (5 bulan), sehingga kambing dapat beranak 3 kali dalam 2 tahun. Setiap kali melahirkan bisa diperoleh 2 – 3 ekor anak. Dewasa kelamin dicapai pada usia 8 bulan – 1 tahun.

Klasifikasi Kambing :

Filum : Chordota (Hewan Tulang Belakang)
Kelas : Mamalia (Hewan Menyusui)
Ordo : Artiodactyla (Hewan Berkuku Genap)
Famili : Bovidae (Hewan Memamah Biak)
Sub Famili : Caprinae
Genus : Capra
Spesies : C. aegagrus
Sub Species : Capra aegagrus hircus


2. Kambing lokal
Pada dasarnya yang biasa disebut sebagai kambing lokal merupakan sub spesies dari kambing liar yang banyak tersebar di Asia Barat Daya dan sebagian Eropa, sehingga ciri-ciri umum yang dimilikinya pun sesuai dengan ciri-ciri kambing liar. Bobot tubuh kambing betina jenis ini antara 50 – 55 Kg, sedangkan pada yang jantan bisa mencapai 120 Kg. Perkembang-biakan dapat diatur sedemikian rupa, sehingga beranak 3 kali dalam 2 tahun; yaitu dengan cara memperhatikan masa kehamilan sekitar 5 bulan dan mengatur umur sapih anak.

3. Kambing Kacang
Kambing jenis ini dianggap sebagai kambing yang pertama kali ada di Indonesia. Ciri-ciri: bertubuh kecil dengan tinggi gumba sekitar 60 – 65 cm pada yang jantan dan sekitar 50 – 55 cm pada yang betina, baik yang jantan maupun betina bertanduk pendek, telinga tegak dan berbulu lurus dan pendek (berwarna coklat, hitam, putih atau kombinasi dari ketiganya). Bobot kambing kacang jantan bisa mencapai 25 Kg, sedangkan bobot yang betina sekitar 20 Kg.
Perkembang-biakan kambing kacang tergolong cepat, sebab kambing ini bersifat sangat prolifik (lahir kembar); bahkan sering terjadi lahir kembar 3, dan dewasa kelamin rata-rata dicapai pada usia sekitar 8 bulan; sehingga pada usia 13 bulan sudah bisa memiliki keturunan. Disamping itu pemeliharaannya relatip mudah; bisa dilepas begitu saja mencari pakan sendiri dan tidak perlu bantuan pada waktu kawin maupun melahirkan. Sifat-sifat yang demikian menjadikan kambing kacang cocok sebagai penghasil daging (prosentase karkas sekitar 44 – 51 %).

4. Kambing Etawa
Tahun 1931 diperkirakan sebagai tahun masuknya kambing etawa ke wilayah Indonesia. Pada waktu itu pemerintah Belanda bermaksud menjadikannya sebagai produk ternak andalan. Nama etawa sendiri diambil dari nama suatu daerah di India sebagai tempat asalnya, yaitu Etawa di daerah Uttar Pradesh. Kambing ini juga biasa disebut sebagai kambing jamnapari berdasarkan pada nama sungai yang terdapat di Etawa, yaitu sungai Jamna Par. Ciri-ciri: postur tubuh besar dengan tinggi sekitar 125 cm pada yang jantan dan 90 cm pada yang betina, bentuk muka cembung, hidung melengkung, baik jantan maupun betina bertanduk, telinga panjang terkulai hingga 30 cm, kaki panjang dan berbulu pada bagian paha. Bobot pada jantan dewasa bisa mencapai 90 Kg, sedangkan yang betina sekitar 60 Kg. Kambing etawa berbulu lurus, agak panjang, kasar dan berwarna belang; yaitu kombinasi antara hitam, putih, coklat dan merah.
Kambing etawa dikenal sebagai tipe kambing dwiguna, yaitu sebagai penghasil daging dan susu; hal ini ditandai dengan bentuk ambing yang besar dan panjang pada betina dewasa. Pengelolaan secara baik dapat meningkatkan produksi susu hingga mencapai 3 liter per hari per ekor (235 Kg/ms laktasi). Sering kali susu kambing dikaitkan dengan kesehatan, sehingga harganya cukup tinggi; saat ini antara Rp 30.000,- s/d Rp 40.000,- per liter.
Di Indonesia kambing Etawa dikawin-silangkan untuk perbaikan mutu kambing lokal. Hasil dari persilangan tersebut dinamakan kambing PE (Peranakan Etawa). Sentra besar kambing PE adalah di Kaligesing – Purworejo – Jawa Tengah dan di daerah Sleman – Yogyakarta. Kambing PE juga telah berkembang di Jawa Barat, Jawa Timur dan Lampung. Lebih lanjut kambing PE juga disilangkan dengan berbagai jenis kambing lain, seperti dengan kambing saanen untuk menghasilkan persilangan penghasil susu, dengan kambing lokal untuk menghasilkan kambing pedaging; dinamakan kambing kaplo atau jawarandu yang berukuran lebih kecil dari kambing PE dan mudah diternak.

5. Kambing Alpin
Kambing alpin berasal dari Pegunungan Alpen di Swiss dan menyebar ke seluruh daratan eropa. Ciri-ciri: postur tubuh besar dengan tinggi sekitar 125 cm untuk yang jantan dan 90 cm untuk yang betina, bobot mencapai 90 Kg untuk yang jantan dan 65 Kg untuk yang betina, pada muka terdapat garis putih di atas hidung, telinga berukuran sedang dan megarah ke atas, ada yang bertanduk dan ada juga yang tidak bertanduk, warna bulu bervariasi antara putih dan hitam. Kambing alpin termasuk kambing penghasil susu yang banyak. Produksi susu bisa mencapai sekitar 7,5 liter per hari per ekor (600 Kg/ms laktasi).

6. Kambing Saanen
Sebagaimana namanya kambing jenis ini berasal dari lembah Saanen di Swiss bagian barat dan merupakan jenis kambing terbesar di Swiss. Kambing saanen sulit berkembang di wilayah tropis, karena kepekaannya terhadap matahari. Ciri-ciri: postur tubuh besar; kira-kira sebesar kambing alpin, tidak bertanduk, telinga tegak dan mengarah ke depan, warna bulu dominant putih, terdapat bercak hitam pada hidung, telinga atau ambing. Kambing saanen termasuk penghasil susu yang sangat banyak hingga mencapai sekitar 9,5 liter per hari per ekor (740 Kg/ms laktasi).

7. Kambing Toggenburg
Kambing toggenburg berasal dari Toggenburg Valley di wilayah timur laut Swiss. Ciri-ciri: postur tubuh lebih kecil dari kambing alpin, bobot mencapai 80 Kg untuk yang jantan dan 60 Kg untuk yang betina, tidak bertanduk, telinga tegak menghadap ke depan, hidung agak cembung, berbulu halus dan berwarna merah tua atau coklat dengan bercak putih. Kambing toggenburg merupakan jenis kambing penghasil susu. Produksi susu bisa mencapai 7,5 liter per hari per ekor (600 Kg/ms laktasi).

8. Kambing Anglo Nubian
Daerah asal kambing jenis ini adalah Nubia, yaitu suatu daerah yang terletak di bagian timur laut dari Afrika. Ciri-ciri: postur tubuh cukup besar, bobot mencapai 90 Kg untuk yang jantan dan 70 Kg untuk yang betina, ada yang bertanduk dan ada yang tidak, telinga menggantung, ambing besar, kaki panjang dan berbulu pendek. Warna bulu hitam, merah, coklat, putih atau kombinasi dari warna-warna tersebut. Kambing anglo nubian hidup di daerah panas dan termasuk jenis kambing penghasil susu yang cukup tinggi. Produksi susu bisa mencapai 9 liter per hari per ekor (700 Kg/ms laktasi).

9. Kambing Beetal
Kambing beetal berasal dari India; yaitu Punjab, dan Pakistan; yaitu Rawalpindi dan Lahore. Ciri-ciri: mirip kambing etawa. Kambing ini merupakan jenis kambing dwiguna; penghasil daging dan susu. Produksi susu bisa mencapai 2,5 liter per hari per ekor (190 Kg/ms laktasi).
1.10. Kambing Boer
Kambing boer berasal dari Afrika Selatan. Kata "boer" berarti petani, karena jenis kambing ini banyak dipelihara oleh petani Afrika. Ciri-ciri: tubuhnya lebar dan panjang, hidung cembung, telinga panjang menggantung, kepala berwarna kecoklatan, badan berbulu putih dan kaki pendek. Kambing ini suka berjemur di siang hari. Hal ini didukung oleh kulitnya yang berwarna coklat untuk melindungi diri dari kanker kulit akibat sengatan sinar matahari langsung.
Rata-rata pertambahan berat tubuh kambing boer sekitar 0,02 – 0,04 Kg per hari, sehingga pada usia 5 – 6 bulan dapat mencapai bobot 40 – 45 Kg. Disamping itu prosentase karkas terhadap berat tubuh antara 45 % – 50 %. Oleh karena itu kambing ini merupakan kambing pedaging yang sangat baik.

11. Kambing Gembrong
Jenis kambing ini hanya ada di sekitar pantai timur Bali, yaitu desa Bugbug, Culik dan Bunutan. Ciri-ciri: ukuran tubuh kecil; tinggi sekitar 60 cm dan bobot sekitar 40 Kg. Kambing gembrong berbulu panjang; mencapai sekitar 25 cm, berwarna putih dan halus. Kambing ini merupakan jenis kambing penghasil bulu. Periode pencukuran bulu yang biasa dilakukan adalah 1,5 tahun.


|| ... Domba dan Kambing ... || Jenis | Pakan | Kandang | Pemasaran || ... M-Info ... ||